RADARINDONESIANEWS.COM, NUSA DUA - Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar yang digelar selama empat hari, 14 sampai 17 Mei ini, akhirnya menetapkan Setya Novanto sebagai ketua umum periode 2016-2019 menggantikan Aburizal Bakrie.
Setnov terpilih secara aklamasi dengan mengantongi suara 277 dari 554 suara yang diperebutkan dalam voting tertutup yang sebelumnya sempat ricuh saat menetapkan mekanisme pemilihan antara terbuka atau tertutup dalam Munaslub Partai Golkar di Bali Nusa Dua Convention Center/BNDCC, Nsa Dua, Bali, Selasa (17/5) pagi.
Sementara itu rival berat Setnov, yakni Ade Komaruddin atau Akom memperoleh 173 suara, sehinga lolos dari persayaratan yakni 30 plus 1. Dengan demikian Setnov dan Akom melanjutkan pertarungannya di putaran ke dua.
Namun yang mengejutkan dan membuat hati seluruh kader Golkar terharu adalah pernyataan yang disampaikan dua caketum lain yakni Syahrul Yasin Limpo yang memperoleh suara sekitar 50-an dan Akom saat menyampaikan pidatonya.
Syahrul Limpo juga sebelumnya menyampaikan kepada para kandidat untuk menghentikan pertarungan. Apalagi, proses pemilihan ketua umum Golkar dalam munaslub kali ini sudah menunjukan demokrasi sesunggunya.
"Jadi saya minta agar pemilihan putaran kedua tidak perlu dilanjutkan. Kemenangan ini adalah kemenangan kita semua sebagai kader Partai Golkar," ucapnya.
Usai pidato Syahrul Limpo, tiba pada giliran Akom dengan tidak diduga justru dia juga tidak ingin ada putaran kedua pemilihan ketua umum Golkar.
Dia dengan iklahs mempersilakan Setnov yang diakui sebagai seniornya itu untuk menjadi ketua umum Partai Golkar.
"Umur saya baru 50 tahun, karir politik saya masih panjang. Senior saya (Setnov) kini berumur 60 tahun, maka dengan ikhlas saya meminta senior saya Mas Setnov untuk memimpin dan membentuk kepengurusan Golkar ke depan," kata Akom yang disambut aplaus seluruh kader Golkar yag acda di arena munaslub.
Setelah mendengarkan pidato Syahrul dan Akom, Nurdin Khalid selaku Ketua Steering Commite mengatakan, dengan adanya kesempatan dari ke delapan calon ketua umum Golkar itu, maka putaran ke dua tidak pelu dilanjutkan.
Sebelum terpilih menjadi ketua umum Golkar, Setnov menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar (F-PG) DPR RI. Namun dengan terpilihnya sebagai ketua umum Golkar, Setnov sesuai janjinya akan mundur dari jabatan di fraksi. (Denny/BB)

Post a Comment