![]() |
| Foto : Muhamad Ikram Pelesa (Ketua Umum HMI Cabang Kendari) |
Refleksi Hari Pahlawan Nasional, Ahok dan Penistaan Agama ; Mungkinkah Reformasi Jilid II Terjadi ?
Oleh:
Muhamad Ikram Pelesa
Tragedi tanggal 12 Mei delapan belas tahun lalu, menjadi sebuah catatan bersejarah bagi bangsa ini. Elang Mulya Lesmana, Hery Hartanto, Hendriawan, Sie, dan Hafidin Royan dan beberapa mahasiswa trisakti lainnya telah menjadi korban Timah panas aparat yang tak bertanggung jawab. Peristiwa penting itu merenggut nyawa mereka di dalam kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat. Namun demikian, pengorbanan empat pahlawan reformasi itu tidak percuma, karena era perubahan akhirnya tiba jua di negeri ini.
Penembakan tersebut akhirnya memicu terjadinya kerusuhan massal pada tanggal 13 sampai dengan 15 Mei di seantero Ibukota, aksi pendudukan Gedung MPR/DPR, dan akhirnya berbuah pada pengunduran diri Presiden HM. Soeharto.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa tragedi Trisakti 12 Mei 1998 merupakan kunci utama runtuhnya rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun di Negeri ini. Tanpa ada peristiwa itu sulit membayangkan HM. Soeharto akan mundur dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998.
Peristiwa tersebut merupakan momentum bersatupadunya mahasiswa berbagai perguruan tinggi melakukan aksi bersama menuntut reformasi total di segala bidang dan pergantian kepemimpinan nasional saat itu. Eksklusivisme aksi reformasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seolah sirna dengan peristiwa tersebut. Gelombang tuntutan reformasi tersublimasi dalam bentuk pendudukan Gedung DPR/MPR oleh mahasiswa mulai 18 Mei 1998 dan berbuah pada lengsernya Soeharto tiga hari kemudian.
Setelah 18 tahun peristiwa itu berlalu, mimpi reformasi total di segala bidang yang didengungkan ketika itu, ternyata belum banyak yang dipenuhi pemerintah hingga kini. Peran dan jasa para mahasiswa yang terlibat aktif dalam aksi reformasi, terlupakan. Bahkan sejak awal mereka telah ”disalip di tikungan” oleh para elite politik yang kini menikmati lezatnya irisan kue reformasi.
Reformasi yang telah bergulir 18 tahun tak kunjung membawa perubahan bagi kesejahteraan rakyat. Tuntutan demokratisasi, perang terhadap Dominasi Asing, penggusuran strategi ekonomi mafia gaya Baru yang eksklusif dan penuh ketimpangan, serta penurunan harga kebutuhan bahan pokok, tak kunjung terwujud. Memang sepintas tuntutan-tuntutan itu seolah telah terpenuhi, dengan lahirnya sejumlah aturan dan lembaga baru. Namun, bisa dicermati semuanya masih serba semu. Demokratisasi masih sebatas prosedural belum subtantif. Pemberantasan KKN masih tebang pilih. Gaya ekonomi ala Orde Baru masih terus dipertahankan dengan cover yang berbeda. Harga barang kebutuhan pokok bukannya turun, melainkan terus melambung seiring dengan turunya nilai tukar rupiah. Bila dibandingkan dengan tingkat pendapatan masyarakat, hal tersebut berdampak buruk terhadap perekonomian bangsa.
Kini, dengan persoalan bangsa yang begitu kompleks negara kita diperhadapkan dengan masalah besar, dimana pada kontestasi politik ibukota negara DKI jakarta dengan persaingan begitu ketat antara pasangan Agus-Silvy, Ahok-Djarot dan Anis-Sandi dalam memperebutkan kursi Gubernur & wakil gubernur untuk satu periode kedepan. Kepanikan Gubernur Petahana DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok tidak terpilih lagi dengan penduduk jakarta yang mayoritas beragama islam serta adanya anjuran Al-qur’an untuk tidak memilih pemimpin non-muslim mmbuat Ahok nekat melakukan penistaan agama islam dengan menyebutkan bahwa ummat muslim dijakarta telah dibohongi menggunakan surah Al Maidah Ayat 51, untuk tidak memilihnya.
Terlepas dan kontestasi pilkada DKI Jakarta, Pernyataan ahok tersebut telah melukai seluruh ummat muslim didunia khususnya di indonesia, membuat para Ulama dan tokoh muslim murka serta menimbulkan gelombang demonstrasi dimana-mana menuntut Ahok untuk segera diadili.
Kecaman demi kecaman dilontarkan umat muslim baik pernyataan melalui siaran tv, tulisan diberbagai dinding media sosial, releasse ormas-ormas islam yang berbuntut pada lahirnya gerakan AKSI BELA ISLAM (seassion pertama) tanggal 14 oktober 2016 lalu. Aksi tersebut dipusatkan dibalai kota jakarta dengan jumlah massa ribuan orang, menuntut pihak kepolisian segera memproses ahok secara hukum. Sampai bubarnya massa aksi dari demonstrasinya, pihak kepolisian tidak juga memberikan kepastian, akhirnya massa aksi memberikan waktu 2 minggu kepada pihak kepolisian untuk segera memproses kasus ahok. Ternyata dengan jarak waktu yang diberikan massa AKSI BELA ISLAM, kepolisian ternyata tidak memperdulikan persoalan tersebut. Entah, apa alasan yang jelas sampai kasus tersebut tidak ditangani oleh pihak kepolisian…?
Perlu diketahui, Ahok merupakan wakil Joko Widodo dalam memenangkan pilgub DKI Jakarta tahun 2012 lalu, setelah itu menjadi Plt. Gubernur karena Jokowidodo terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia menggantikan Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Kemudian Ahok menggantikan Jokowi sebagai gubernur DKI dengan Djarot sebagai wakilnya. Selama Joko widodo menjabat sebagai presiden, Gubernur DKI Jakarta Ahok sangat diperlakukan istimewah dibanding dengan para kepala daerah setingkatnya, tak ayal hampir seluruh kebijakan yang dikeluarkan oleh ahok tidak terlepas dari intervensi Jokowidodo. Begitu istimewahnya sang gubernur petahana Basuki Tjahja purnama dimata jokowidodo, sehingga ketika dikait-kaitkan dengan isu yang berhembus saat ini bahwa Ahok dipersiapkan untuk mendampingi Jokowi pada pilpres mendatang, bukan hal yang mustahil ketika joko widodo melakukan segala cara dalam melindungi ahok…!!!
Setelah cerita AKSI BELA ISLAM diabaikan oleh pihak kepolisian, hal ini makin memperparah situasi sosial bangsa indonesia. Karena merasa negara tidak lagi hadir dalam persoalan penistaan agama kepada Islam yang jumlah penduduknya terbesar di indonesia bahkan didunia (Menurut hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, tercatat sebanyak 207.176.162 penduduk Indonesia memeluk Agama Islam. Sementara itu jika dihitung persentasenya jumlah 207.176.162 tersebut setara dengan 87,18% dari total penduduk Indonesia). Hal tersebut membuat para ulama, cendekiawan, negarawan, para pimpinan ormas islam sampai dengan para aktivis mahasiswa islam marah karena presiden terkesan mengintervensi kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Sehingga untuk kedua kalinya mereka merencanakan untuk melakukan aksi damai yang disebut dengan AKSI BELA ISLAM II. Mendengar isu tersebut, Joko widodo yang entah panik atau seperti apa (aku tak tahu) sibuk mendatangi para tokoh serta mengundang makan malam para pimpinan ormas islam dengan tujuan meredam aksi tersebut. Alhasil demonstarsi tetap berjalan sesuai yang direncanakan pada tanggal 4 November 2016, ratusan ribu ummat muslim mengepung istana presiden dari berbagai penjuru nusantara hadir hanya untuk menyuarakan keadilan meminta meminta presiden untuk tidak mengintervensi kasus ahok dan meminta kepolisian segera mengadili ahok. Namun faktanya presiden malah meninggalkan massa aksi dan memilih mengunjungi proyek kereta api dibandar udara Soekarno-Hatta, massa aksipun tetap menunggu presiden hadir menemui mereka. Namun bukannya ditemui, massa aksi malah dibubarkan secara paksa dan ditembaki gas air mata hingga kericuhanpun tak terhindarkan dan mengakibatkan 1 orang meninggal dunia akibat gas air mata. Lagi – lagi hati ummat islam tersayat, joko widodo lebih memilih melindungi Ahok dan mengorbankan hati muslim di indonesia.
Tidak berhenti disitu, upaya pengalihan isu penistaan Agama yang dilakukan oleh Ahok pihak kepolisian berdasarkan Asumsi belaka melakukan kriminalisasi terhadap sejumlah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atas tuduhan sebagai dalang atau provokator kericuhan pada AKSI BELA ISLAM II. Senin, 7 November 2016 Pada pukul 23.00 WIB sekitar 30an polisi mendatangi sekretariat PB HMI tanpa alasan yang jelas langsung melakukan tangkap paksa terhadap saudara Amijaya Halim Sekjend PB HMI dengan beberapa kader HMI yang telah ditangkap terlebih dahulu. hal tersebut juga membuat organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di indonesia marah dan bersedia menggerakkan jutaan kader dan puluhan juta alumninya diseluruh indonesia untuk mengepung istana ketika persoalan ahok tidak segera dituntaskan.
Kegagalan pemerintah dalam mengemban amanat reformasi telah membuat sejumlah rakyat, mahasiswa khususnya Ummat muslim dapat mulai menyiapkan skenario reformasi JILID II. Karena Keberpihakan pemerintah terhadap pemodal/Asing dan Penomena penistaan Agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahja Purnama terhadap Umat Islam sebagai penduduk terbesar dinegeri ini bakal menjadi pintu masuk pergerakan. Sebab yang diperjuangkan adalah perubahan substansial bukan reformasi artifisial seperti yang ada sekarang. Satu hal yang tak boleh dilupakan, jangan lagi mau diperdayai oleh elite politik yang gemar “menyalip di tikungan”. Dengan begitu, pengorbanan para pahlawan reformasi delapan belas tahun lalu tidak sia-sia.
Penulis Adalah
Ketua Umum HMI Cabang Kendari
Ketua Umum HMI Cabang Kendari

Post a Comment